Selasa, 14 Januari 2014

Kumpulan Cerita Pendek



Secercah Harapan Di Hari Kemerdekaan

Semakin rentan sana tubuhnya seolah tinggal kerangka dan kulit saja yang melekat.Baju lusuh, kumal serta tak terurus.Dia adalah seorang kakek tua dengan seorang cucu.Kiki namanya usianya masih terlampau muda untuk ikut menderita mengikuti jejak kakeknya.
Setiap hari Kiki diantar kakek nya ya, bukan dengan mobil, sepeda, atau kendaraan lainnya.Namun dengan menggendongnya kemudian berjalan berkilo – kilo meter jauhnya.Hanya udara yang masih sejuk serta pohon – pohon rindang yang mampu menguatkan perjalanan mereka.
Pagi itu suasana sudah ramai disekolah setiap murid yang datang harus berbaris terlebih dahulu di depan kelas masing – masing.Kiki yang masih duduk di kelas tiga hanya bisa duduk disebuah bangku yang memang sudah menjadi bangkunya untuk menunggu baris berbaris selesai.Setelah berbaris murid – murid pun masuk satu persatu.
“Anak – anak ada yang tahu dua hari yang akan datang akan ada perayaan apa?” bu Neneng bertanya pada murid – muridnya.Ramai riuh menghiasi suasana kelas mereka saling tunjuk tangan menutupi satu sama lain.
“Iya iya anak – anak betul kita tanggal 17 Agustus besok akan merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.Nah sekarang apa yang dapat kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia?”. Semuanya terdiam namun Kiki menunjuk tangan.Semua tatapan tertuju pada Kiki.Kiki memang siswi yang pintar dan selalu juara umum.
“Iya nak bagaimana caramu?” bu Neneng dengan semangat mendekati Kiki.
“Dengan cara belajar yang rajin, berdoa pada Tuhan dan berbakti pada orang tua itu sudah dapat dikatakan dengan mengisi kemerdekaan bu” jawabnya lancar dan membuat yang lain tercengang.



“Iya betul sekali ya anak – anak yang Kiki katakan,kita harus belajar untuk mengisi kemerdekaan agar tidak dijajah negara lain.Mungkin kita tidak dijajah dengan senjata lagi,namun sekarang ini kita bersaing dalam IPTEK jadi kita tidak boleh lengah dan harus mempertahankan kemerdekaan ini agar menjadi pemimpin nantinya”.
Malam hari si cucu tak terpejam matanya mengingat sang kakek belum pulang juga, seketika terbayang kejadiaan naas pada dirinya kurang lebih satu tahun yang lalu.Ketika ia akan menyebrang jalan menjual lembaran demi lembaran kain bendera merah putih yang ia jahit bersama sang kakek.
”Tuk tuk tuk...” suara ketukan pintu.Dengan kaki terseret – seret serta balutan perban yang menambah beban Kiki membuka pintu.Senyum sumringah terpancar dari wajah mungil Kiki.Kakeknya pun membalas, namun tak dipungkiri kerutan wajahnya sudah tak gagah seperti dulu.
“Kiki, kakek besok akan pergi ke kota.Apakah Kiki ingin ikut?” tanya kakek sambil meneguk secangkir air.
“Seperti tahun lalu kek?” tanyanya ragu.
Sang kakek hanya terdiam dan ia pun teringat atas kejadian yang membuat kaki Kiki lumpuh.
Matahari masih bersembunyi ayam pun masih enggan berkokok.Namun mereka sudah bangun setelah sahur untuk bergegas mencari kayu ke hutan.Rasanya pilu melihat seorang kakek yang harusnya beristirahat tetapi malah menggendong cucunya yang sudah tidak dapat berjalan akibat lumpuh.


 
Daun – daun kering yang berjatuhan serta ranting – ranting rapuh menemani langkah sang kakek bersama cucunya.Sesekali harus kesulitan untuk jongkok mengambil bambu yang dicari.Namun sang kakek tetap semangat untuk menjual bambu tersebut ke kota.
Setelah medapat setumpuk bambu kurang lebih berjumlah dua puluh bambu sang kakek beristirahat disebuah pohon sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke kota.
“Kek, apakah kakek akan menjual sebatang bambu ini dengan harga lima ratus rupiah lagi kek?” Mata bulatnya dari tadi memperhatikan cucuran keringat sang kakek.
“Entahlah cu, memang kenapa kiki bertanya seperti itu?” sambil mengelap wajahnya dengan kerah bajunya yang compang – camping.
“Kenapa kakek tidak menjual seribu atau dua ribu rupiah saja kek perbatang,apakah mereka tidak tau bahwa kita bisa menghabiskan waktu seharian untuk sampai ke kota” gadis kecil itu terus melontarkan pertanyaan.
Namun si kakek hanya mengelus helaian demi helain rambut si cucu.Kemudian kakek menggendong Kiki lalu melanjutkan perjalanan.
Akhirnya mereka sampai juga dikota, kota Bogor.Udaranya masih sejuk tapi tak sesejuk kampung halaman mereka.Mobil dan motor ramai sekali.Kiki selalu tercengang dan senang melihat banyak orang berjualan.Sang kakek menawarkan dagangannya pada pembeli.Setiap orang merasa kasihan sehingga membeli bambu yang dijual kakek itu.Senyum pipit pada pipi Kiki menggambarkan kebahagian mereka.
Setelah pukul satu siang mereka beristirahat dibelakang sebuah rumah makan mewah.
“Hari ini jualan kita laku cu” tersenyum tipis sambil bersender ditembok putih
“Tapi mengapa kakek tidak menjual semuanya, mengapa menyisakan sebatang bambu lagi?” Kiki keheranan.
“Ini untuk dirumah ki.Dalam rangka 17 Agustus besok, kita pun harus mengibarkan bendera merah putih dengan ditopang bambu ini sebagai rasa nasionalisme” sambil menegakkan bambu tersebut.


“Oh seperti tahun- tahun sebelumnya juga ya kek.Kek bolehkah aku meminta sedikit uangmu?”
“Memangnya Kiki untuk apa?” sambil menghitung jumlah uangnya.
“Kiki ingin membeli sebuah buku diujung sana kek,Kiki ingin walaupun Kiki tidak dapat berjalan,kemudian hanya bersekolah dikampung,dan tinggal ditempat terpencil namun Kiki tidak ingin punya wawasan terpencil pula kek.Kiki ingin mengisi kemerdekaan dengan memajukan pembangunan.Kiki ingin membahagiakan kakek jika Kiki telah mencapai cita – cita sebagai Insyinyur nantinya” jawab Kiki dengan polosnya
“Hahaha....” sang kakek tertawa dengan suara khasnya
“Kamu benar – benar membuat kakek bangga Ki” cairan bening membasahi pipi sang kakek.Beliau merasa terharu sekali akan impian mulia cucunya.
Mereka pun saling berpelukan dan haru pilu dipanasnya terik matahari, suara klakson dan deburan debu kota Bogor yang mendera dijalan.Sambil menunggu adzan berbuka tiba.


Kita pun harus mencontoh sosok Kiki dan Kakeknya yang berusaha untuk mengisi kemerdekaan dengan semampu kita dan juga bermanfaat.Semoga kisah ini menjadi Inspirasi untuk para pembaca ya











Tidak ada komentar:

Posting Komentar