Secercah
Harapan Di Hari Kemerdekaan
Semakin
rentan sana tubuhnya seolah tinggal kerangka dan kulit saja yang melekat.Baju
lusuh, kumal serta tak terurus.Dia adalah seorang kakek tua dengan seorang
cucu.Kiki namanya usianya masih terlampau muda untuk ikut menderita mengikuti
jejak kakeknya.
Setiap
hari Kiki diantar kakek nya ya, bukan dengan mobil, sepeda, atau kendaraan
lainnya.Namun dengan menggendongnya kemudian berjalan berkilo – kilo meter
jauhnya.Hanya udara yang masih sejuk serta pohon – pohon rindang yang mampu
menguatkan perjalanan mereka.
Pagi
itu suasana sudah ramai disekolah setiap murid yang datang harus berbaris
terlebih dahulu di depan kelas masing – masing.Kiki yang masih duduk di kelas
tiga hanya bisa duduk disebuah bangku yang memang sudah menjadi bangkunya untuk
menunggu baris berbaris selesai.Setelah berbaris murid – murid pun masuk satu
persatu.
“Anak
– anak ada yang tahu dua hari yang akan datang akan ada perayaan apa?” bu
Neneng bertanya pada murid – muridnya.Ramai riuh menghiasi suasana kelas mereka
saling tunjuk tangan menutupi satu sama lain.
“Iya iya anak –
anak betul kita tanggal 17 Agustus besok akan merayakan Hari Kemerdekaan
Republik Indonesia.Nah sekarang apa yang dapat kita lakukan untuk mengisi
kemerdekaan Indonesia?”. Semuanya terdiam namun Kiki menunjuk tangan.Semua
tatapan tertuju pada Kiki.Kiki memang siswi yang pintar dan selalu juara umum.
“Iya nak
bagaimana caramu?” bu Neneng dengan semangat mendekati Kiki.
“Dengan cara
belajar yang rajin, berdoa pada Tuhan dan berbakti pada orang tua itu sudah
dapat dikatakan dengan mengisi kemerdekaan bu” jawabnya lancar dan membuat yang
lain tercengang.
“Iya betul
sekali ya anak – anak yang Kiki katakan,kita harus belajar untuk mengisi
kemerdekaan agar tidak dijajah negara lain.Mungkin kita tidak dijajah dengan
senjata lagi,namun sekarang ini kita bersaing dalam IPTEK jadi kita tidak boleh
lengah dan harus mempertahankan kemerdekaan ini agar menjadi pemimpin
nantinya”.
Malam
hari si cucu tak terpejam matanya mengingat sang kakek belum pulang juga,
seketika terbayang kejadiaan naas pada dirinya kurang lebih satu tahun yang
lalu.Ketika ia akan menyebrang jalan menjual lembaran demi lembaran kain
bendera merah putih yang ia jahit bersama sang kakek.
”Tuk
tuk tuk...” suara ketukan pintu.Dengan kaki terseret – seret serta balutan
perban yang menambah beban Kiki membuka pintu.Senyum sumringah terpancar dari
wajah mungil Kiki.Kakeknya pun membalas, namun tak dipungkiri kerutan wajahnya
sudah tak gagah seperti dulu.
“Kiki, kakek
besok akan pergi ke kota.Apakah Kiki ingin ikut?” tanya kakek sambil meneguk
secangkir air.
“Seperti tahun
lalu kek?” tanyanya ragu.
Sang kakek hanya
terdiam dan ia pun teringat atas kejadian yang membuat kaki Kiki lumpuh.
Matahari masih
bersembunyi ayam pun masih enggan berkokok.Namun mereka sudah bangun setelah
sahur untuk bergegas mencari kayu ke hutan.Rasanya pilu melihat seorang kakek
yang harusnya beristirahat tetapi malah menggendong cucunya yang sudah tidak
dapat berjalan akibat lumpuh.
Daun – daun
kering yang berjatuhan serta ranting – ranting rapuh menemani langkah sang
kakek bersama cucunya.Sesekali harus kesulitan untuk jongkok mengambil bambu
yang dicari.Namun sang kakek tetap semangat untuk menjual bambu tersebut ke
kota.
Setelah medapat
setumpuk bambu kurang lebih berjumlah dua puluh bambu sang kakek beristirahat
disebuah pohon sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke kota.
“Kek, apakah
kakek akan menjual sebatang bambu ini dengan harga lima ratus rupiah lagi kek?”
Mata bulatnya dari tadi memperhatikan cucuran keringat sang kakek.
“Entahlah cu,
memang kenapa kiki bertanya seperti itu?” sambil mengelap wajahnya dengan kerah
bajunya yang compang – camping.
“Kenapa kakek
tidak menjual seribu atau dua ribu rupiah saja kek perbatang,apakah mereka
tidak tau bahwa kita bisa menghabiskan waktu seharian untuk sampai ke kota”
gadis kecil itu terus melontarkan pertanyaan.
Namun si kakek
hanya mengelus helaian demi helain rambut si cucu.Kemudian kakek menggendong
Kiki lalu melanjutkan perjalanan.
Akhirnya mereka
sampai juga dikota, kota Bogor.Udaranya masih sejuk tapi tak sesejuk kampung
halaman mereka.Mobil dan motor ramai sekali.Kiki selalu tercengang dan senang
melihat banyak orang berjualan.Sang kakek menawarkan dagangannya pada
pembeli.Setiap orang merasa kasihan sehingga membeli bambu yang dijual kakek
itu.Senyum pipit pada pipi Kiki menggambarkan kebahagian mereka.
Setelah pukul
satu siang mereka beristirahat dibelakang sebuah rumah makan mewah.
“Hari ini jualan
kita laku cu” tersenyum tipis sambil bersender ditembok putih
“Tapi mengapa
kakek tidak menjual semuanya, mengapa menyisakan sebatang bambu lagi?” Kiki
keheranan.
“Ini untuk
dirumah ki.Dalam rangka 17 Agustus besok, kita pun harus mengibarkan bendera
merah putih dengan ditopang bambu ini sebagai rasa nasionalisme” sambil
menegakkan bambu tersebut.
“Oh seperti
tahun- tahun sebelumnya juga ya kek.Kek bolehkah aku meminta sedikit uangmu?”
“Memangnya Kiki
untuk apa?” sambil menghitung jumlah uangnya.
“Kiki ingin
membeli sebuah buku diujung sana kek,Kiki ingin walaupun Kiki tidak dapat
berjalan,kemudian hanya bersekolah dikampung,dan tinggal ditempat terpencil
namun Kiki tidak ingin punya wawasan terpencil pula kek.Kiki ingin mengisi
kemerdekaan dengan memajukan pembangunan.Kiki ingin membahagiakan kakek jika
Kiki telah mencapai cita – cita sebagai Insyinyur nantinya” jawab Kiki dengan
polosnya
“Hahaha....”
sang kakek tertawa dengan suara khasnya
“Kamu benar –
benar membuat kakek bangga Ki” cairan bening membasahi pipi sang kakek.Beliau merasa
terharu sekali akan impian mulia cucunya.
Mereka pun
saling berpelukan dan haru pilu dipanasnya terik matahari, suara klakson dan
deburan debu kota Bogor yang mendera dijalan.Sambil menunggu adzan berbuka
tiba.
Kita pun harus
mencontoh sosok Kiki dan Kakeknya yang berusaha untuk mengisi kemerdekaan
dengan semampu kita dan juga bermanfaat.Semoga kisah ini menjadi Inspirasi
untuk para pembaca ya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar