Sepotong Rendang untuk Nenek
Suasana rumahku masih dipenuhi isak tangis. Kulihat nenek
masih amat sangat terpukul atas kematian ayahku. Ya mulai hari ini aku resmi
menjadi anak yatim. Betapa sedih hatiku. Disaat umurku masih 7 tahun aku sudah
tidak memliki ayah dan tidak tahu dimana ibuku berada. Aku memiliki adik, dia
kembar dengan ku. Nama nya Petra. Dia menjadi adik karena lahir duluan. Seperti
itulah kata orang banyak tentang penobatan siapa yang menjadi kakak dan adik.
Sudah tiga tahun kami tidak bertemu setelah perpisahan itu merobek segala
kenangan indah dimasa kanak – kanakku.
Beginilah
kisahnya…
Ketika sedang bermain, tiba tiba terdengar suara teriakan
ayah dan ibu dari dalam kamar. Kemudia keluar smabil membawa tas. Namun tiba –
tiba saja mereka merusak kesibukan aku dan Petra yang sedang bermain kelereng
dihalaman rumah. Ibu dengan suara lirih menarik tangan Petra memisahkan aku dan
saudara kembaranku itu. Masih kuingat bagaimana hangat ciuman dari ibu yang
bagiku itu adalah yang terakhir kurasakan. Karena hingga saat ini aku tak tahu
dimana ibuku berada. Petra memelukku kencang dan berbisik “kakak, jangan lupain
dede” sungguh kejadian itu sangat membekas diingatanku hingga saat ini.
Semenjak itulah aku tinggal bersama nenek dan ayah di Jakarta.
Namun ayahku pun ikut meninggalkan ku bukan untuk sebentar bahkan untuk
selamanya. Aku hanya menatap kosong jenazah ayahku. Aku rasanya ingin berteriak
meraung – raung mengapa hidupku harus seperti ini. Namun seperti inilah hidup.
Aku harus tetap menjalani walau rasanya lembah dan bukit hidup enggan aku
lalui.
Setelah kematian ayahku. Aku menjadi pribadi yang tegar dan
tahu diri. Aku hidup hanya bersama nenekku. Dia tegas dan lumayan galak padaku.
Sehingga terkadang aku rindu kedua orang tuaku. Nenekku adalah seorang
pedagang. Beliau berdagang kue serabi dipinggir kota. Tak jarang wajahnya hitam
terkena arang membuat aku tertawa kecil melihatnya. Namun nenekku ini sangatlah
berbeda, ia sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat pendidikan seseorang.
Sehingga beliau sangat bersemangat apabila menyuruh aku untuk berangkat
kesekolah. Tak banyak yang aku bisa lakukan selain menuruti kemauannya. Setiap
pagi beliau mengantarku dengan langkah yang gagah walau umurnya sudah 49 tahun
ia masih mampu berjalan jauh berkilo – kilo meter mengantarku kesekolah. Lambat
laun aku merasa nenek adalah orang yang sangat berharga yang aku miliki saat
ini. Beliau membanting tulang untuk menafkahiku setiap harinya. Untuk membeli
setengah liter beras dan sepotong ikan setiap harinya. Entah sampai kapan aku
dan nenek akan hidup miskin seperti ini.
Saat ini aku
duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Sebentar lagi aku akan lulus ujian
nasional. Kulihat nenek terus berjuang untuk menyekolahkanku. Walau sekolah
dasar gratis namun setiap tahunnya nenek harus berjuang menabung demi
membelikan aku buku tulis yang baru. Walau nenek selalu berjanji akan membelikan
aku tas dan sepatu baru ketika aku kelas enam. Namun sampai saat ini nenek
belum pernah membelikanku. Aku tak pernah menuntut apapun dari nenek. Aku
kasihan sekali melihatnya. Harus bekerja keras dimasa menjelang tua nya. Nenek
hanya memiliki satu anak yaitu ayahku. Suaminya telah meninggal karena sakit
jantung yang dideritanya. Kini nenek hanya hidup bersamaku.
Saat ini aku
mulai merasa ada yang kurang apabila nenek sedang pergi menginap dirumah
tetangga untuk sekedar membantu jika ada yang meminta bantuan untuk memasak
saat hajatan. Aku merasa banyak berhutang budi pada nenek. Apalagi setelah
kejadian malam itu. Aku sangatlah merasa bersalah.
Malam itu
aku tidak pulang kerumah karena nenek tidak mau membelikan aku sebuah mobil
remot control seperti yang dimiliki temanku, Edi. Nenek mencariku kemana – mana
dan ketika menemukanku sedang bersembunyi di sebuah pos ronda, nenek mengejar
dan membujukku untuk pulang hingga akhirnya kaki nenek tertusuk paku dan
mengeluarkan banyak darah. Aku yang melihat kejadian itu langsung berlari
mendekati nenek dan meminta tolong sekencang – kencengnya. Kulihat wajah nenek
begitu kesakitan dan tangannya gemetar. Kejadian itu sungguh tidak akan aku
lupakan. Berulang kali aku meminta maaf disela – sela orang – orang memopong
nenekku kedalam rumah pak RT. Napas nenekku tersenggal – senggal entah karena
kesakitan atau karena kelelahan mencari dan mengejarku sedari tadi. Wajahku
tertunduk lama, aku takut orang – orang memarahiku karena ini semua salahku. Tapi
ternyata bu Rt mendekatiku dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah
aku ceritakan bu RT pun memberikan aku uang sebesar lima puluh ribu. Katanya
itu untuk membeli mobil remot control seperti Edi. Setelah berpikir panjang aku
berkata bahwa lebih baik uang itu untuk membelikan nenek sepotong daging rendang
karena beliau sudah seminggu ini bolak – balik melewati rumah makan padang. Bu
RT terharu mendengarnya dan memeluk lembut tubuhku karena niat tulusku untuk
nenek.
Setelah kejadian malam itu. Nenek kembali pulang kerumah.
Kaki nya sudah dibalut perban dan sudah membaik karena sudah dibawa keklinik terdekat oleh pak RT dan bu
RT. Sebelum pergi kesekolah aku mendekati nenek dan berbisik minta maaf. Aku
berjanji didalam hati bahwa suatu saat nanti akan membelikan nenek daging rendang
yang banyak sebagai permohonan maaf. Nenek tersenyum, beliau mengelus kepalaku
dan air matanya terjatuh.
“Nenek ga
akan pernah marah sama Putra. Putra anak baik. Sekolah yang sungguh – sungguh
biar suatu saat nanti bisa sukses dan membahagiakan nenek”.
Tak terasa butiran cairan putih menetes di pipiku. Aku menangis
da benar – benar berjanji akan
membelikan nenek rendang setiap hari suatu saat nanti. Sesampainya disekolah.
Aku belajar dengan sungguh – sungguh. Kini aku mulai mengerti mengapa aku harus
rajin belajar dan menjadi anak yang pintar. Agar aku lulus sekolah dan menggapai
cita – citaku.
Setelah enam tahun berlalu, pengumuman kelulusan SMA
diumumkan. Ternyata aku menjadi siswa terbaik disekolah. Nenekku berdiri
terbata – bata untuk berdiri sambil bertepuk tangan. Semua mata tetuju bangga
padaku. Terutama nenek baru kali ini aku melihat senyumnya begitu lepas hingga
sangat terharu.
Aku diterima diperguruan tinggi di Jogjakarta jurusan
Kedokteran. Akhirnya aku bisa membuat bangga nenekku yang makin hari makin putih
rambutnya. Namun itu tandanya aku harus berpisah dengan nenekku karena aku
harus merantau ke kota Jogjakarta. Nenek tidak mungkin meninggalkan rumah
peninggalan dari suaminya itu. Ada rasa sedih yang teramat dalam dihatiku.
Harus terus berjuang mencapai cita – cita menjadi seorang dokter atau menjaga
nenek yang sangat disayangi sambil bekerja di Jakarta saja.Sungguh pilihan yang
sangat berat.
Setelah berunding dengan nenek dan pihak sekolah tidak ada
yang mendukungku untuk tetap menjaga nenek di Jakarta sambil bekerja. Karena
kata nenek dan kepala sekolah itu sama saja membuang peluang yang telah
diberikan Tuhan. Dan sore itu aku berangkat naik kereta meninggalkan sang nenek
yang sudah rentan tua. Tak tega rasanya melihat tubuhnya yang mulai membungkuk
harus hidup sendirian. Walau kalimat terakhirnya membuat aku sedikit lega.
Bahwa ada bu RT dan tetangga lain yang akan menjaganya. Segala bayangan bersama
nenek terputar ketika kereta sedikit demi sedikit menjauh dari sosok nenekku
yang amat aku sayang dan cintai itu. Begitu sayang dan cintanya aku pada
beliau. Beliau yang selama ini menjadi orang dibalik kesuksesanku nantinya. Beliau
yang selalu mendidik dan menjagaku agar aku menjadi orang yang berguna bagi
nusa dan bangsa. Nenek pula lah yang menjadi inspirasi mengapa aku ingin
menjadi seorang dokter. Karena aku ingin merawat nenek ketika nenek lansia
nanti. Ketika duduk dibangku kereta. Tangisanku pecah mengingat kesalahan
ketika kaki nenek tertusuk paku. Hati ini rasanya ingin memeluk tubuh nenek
yang semakin kurus dan tak segagah dulu.
Tak terasa setelah segala keharuan. Aku telah tinggal selama
enam bulan di Jogjakarta. Aku duduk dibangku sebuah angkringan. Kulihat ada
sepasang pengamen anak – anak kakak beradik. Mereka begitu riang dan gembira.
Tiba – tiba aku teringat pada adikku, Petra. Namun disela – sela lamunanku. Aku
dikejutkan oleh sang penjual angkringan.
“Mas, yang kemarin
belum dibayar kan es teh nya?” dengan logat medoknya
Aku mengeriputkan dahiku seolah aku tidak
mengerti apa yang dia bicarakan padaku.
“Kemarin kan
mas kesini sama pacarnya”. Penjual itu menyakinkan perkataannya
“Saya baru
pertama kesini mas, serius saya” Aku mulai menaikkan nada perkataanku padanya
“Mas Petra
gimana si, kemarin kan mas lupa biasanya mas langsung bayar” penjual itu
sedikit jengkel.
Aku terkejut
dan berpikir sangat keras. Aku langsung meminta nomor telepon Petra dari
penjual itu. Aku menghubungi Petra yang dimaksud si penjual. Ya, dan ternyata
benar. Dia adalah Petra adikku. Kami bertemu di angkringan itu. Dan sipenjual
hanya menganga tiada henti melihat bahwa kami berdua saudara kembar. Perawakannya
dia lebih pendek dariku serta kulitnya lebih putih dariku. Sedang kulitku
bewarna sawo matang, lebih tinggi dan memiliki hidung lebih mancung. Kami
berpelukan sekencang – kencangnya. Kami tertawa bernostalgia mengingat jaman
kecil dulu. Dan saling menanyakan kabar nenek dan ibu. Malam itu aku diajak
langsung kerumah ibu. Dan ibu memelukku amat sangat kencang. Ibu tak mampu lagi
berucap apa – apa saking kaget dan rindunya padaku. Setelah pertemuan itu
akhirnya aku tinggal bersama ibu dan adik kembarku.
Setiap libur semester aku menjenguk nenekku di Jakarta.
Senyumnya menyambutku begitu penuh dengan garis keriput. Beliau tak lagi
berjualan kue serabi sesering dulu ketika aku masih SD. Kadang beliau didatangi
bu RT yang memberikan makan siang dan malam saja. Dan terkadang nenek menahan
lapar dengan berpuasa senin kamis. Dan ketika pulang kembali ke Jogja, beribu
khawatir menderaku. Aku takut nenek sakit tanpa ada yang tahu atau nenek…. Ah
sudahlah nenekku masih kuat walau tak sekuat dan setegar dulu. Namun aku yakin
nenek akan melihat aku sukses nantinya.
Tak terasa pendidikanku di jurusan kedokteran telah selesai
dengan hasil IPK yang sangat mencengangkan. Aku disejajarkan dengan lulusan
cumlaude lainnya. Walau nenek tak ada didepanku
saat ini. Setidaknya ada sosok ibu dan adikku yang dapat melihat
keberhasilanku.
Aku pulang ke Jakarta lengkap bersama ibu dan adik.
Sebelumnya aku membawaku daging rendang dan baju baju untuk nenek. Karena baju
nenek banyak yang sudah tak layak pakai. Nenek terkejut melihat kedatangan kami
semua. Nenek bertekuk lutut mengucap syukur atas semua yang saat ini telah
beliau rasakan. Kami pun menangis haru. Dan aku memberikan daging rendang untuk
dimakan bersama – sama.
Setelah aku bekerja aku memilik gaji yang sangat tinggi.
Sehingga bisa membelikan nenek dan ibu sebuah rumah dan mobil serta kami
bersama – sama menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Setelah itu aku membuatkan
panti jompo sebagai yayasan sebagai permintaan terakhir nenek sebelum beliau
meninggal. Akhirnya aku bisa membalas
rasa tulus dan kasih sayang dari ibu terutama nenekku yang menjagaku disaat
ayah dan ibu tidak berada disampingku.
Janganlah
melawan pada nenek, paman, bibi atau siapapun orang – orang selain orang tua
kita yang menjaga kita ketika kita susah. Tapi balaslah segala kebaikannya
dengan rasa cinta yang tulus dan abadi agar kita sukses dikemudian hari.
<a href="http://www.sprayed-amore.com/p/lomba-blog-cintamenginspirasi.html"><img src="http://i305.photobucket.com/albums/nn234/thatshotproduction/Lomba-Blog-2014.jpg"></a>