Selasa, 27 Mei 2014

Cinta yang menginspirasi Cintaku pada Nenek



  
Sepotong Rendang untuk Nenek
 


Suasana rumahku masih dipenuhi isak tangis. Kulihat nenek masih amat sangat terpukul atas kematian ayahku. Ya mulai hari ini aku resmi menjadi anak yatim. Betapa sedih hatiku. Disaat umurku masih 7 tahun aku sudah tidak memliki ayah dan tidak tahu dimana ibuku berada. Aku memiliki adik, dia kembar dengan ku. Nama nya Petra. Dia menjadi adik karena lahir duluan. Seperti itulah kata orang banyak tentang penobatan siapa yang menjadi kakak dan adik. Sudah tiga tahun kami tidak bertemu setelah perpisahan itu merobek segala kenangan indah dimasa kanak – kanakku.
Beginilah kisahnya…
Ketika sedang bermain, tiba tiba terdengar suara teriakan ayah dan ibu dari dalam kamar. Kemudia keluar smabil membawa tas. Namun tiba – tiba saja mereka merusak kesibukan aku dan Petra yang sedang bermain kelereng dihalaman rumah. Ibu dengan suara lirih menarik tangan Petra memisahkan aku dan saudara kembaranku itu. Masih kuingat bagaimana hangat ciuman dari ibu yang bagiku itu adalah yang terakhir kurasakan. Karena hingga saat ini aku tak tahu dimana ibuku berada. Petra memelukku kencang dan berbisik “kakak, jangan lupain dede” sungguh kejadian itu sangat membekas diingatanku hingga saat ini.
Semenjak itulah aku tinggal bersama nenek dan ayah di Jakarta. Namun ayahku pun ikut meninggalkan ku bukan untuk sebentar bahkan untuk selamanya. Aku hanya menatap kosong jenazah ayahku. Aku rasanya ingin berteriak meraung – raung mengapa hidupku harus seperti ini. Namun seperti inilah hidup. Aku harus tetap menjalani walau rasanya lembah dan bukit hidup enggan aku lalui.
Setelah kematian ayahku. Aku menjadi pribadi yang tegar dan tahu diri. Aku hidup hanya bersama nenekku. Dia tegas dan lumayan galak padaku. Sehingga terkadang aku rindu kedua orang tuaku. Nenekku adalah seorang pedagang. Beliau berdagang kue serabi dipinggir kota. Tak jarang wajahnya hitam terkena arang membuat aku tertawa kecil melihatnya. Namun nenekku ini sangatlah berbeda, ia sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat pendidikan seseorang. Sehingga beliau sangat bersemangat apabila menyuruh aku untuk berangkat kesekolah. Tak banyak yang aku bisa lakukan selain menuruti kemauannya. Setiap pagi beliau mengantarku dengan langkah yang gagah walau umurnya sudah 49 tahun ia masih mampu berjalan jauh berkilo – kilo meter mengantarku kesekolah. Lambat laun aku merasa nenek adalah orang yang sangat berharga yang aku miliki saat ini. Beliau membanting tulang untuk menafkahiku setiap harinya. Untuk membeli setengah liter beras dan sepotong ikan setiap harinya. Entah sampai kapan aku dan nenek akan hidup miskin seperti ini.
Saat ini aku duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Sebentar lagi aku akan lulus ujian nasional. Kulihat nenek terus berjuang untuk menyekolahkanku. Walau sekolah dasar gratis namun setiap tahunnya nenek harus berjuang menabung demi membelikan aku buku tulis yang baru. Walau nenek selalu berjanji akan membelikan aku tas dan sepatu baru ketika aku kelas enam. Namun sampai saat ini nenek belum pernah membelikanku. Aku tak pernah menuntut apapun dari nenek. Aku kasihan sekali melihatnya. Harus bekerja keras dimasa menjelang tua nya. Nenek hanya memiliki satu anak yaitu ayahku. Suaminya telah meninggal karena sakit jantung yang dideritanya. Kini nenek hanya hidup bersamaku.
Saat ini aku mulai merasa ada yang kurang apabila nenek sedang pergi menginap dirumah tetangga untuk sekedar membantu jika ada yang meminta bantuan untuk memasak saat hajatan. Aku merasa banyak berhutang budi pada nenek. Apalagi setelah kejadian malam itu. Aku sangatlah merasa bersalah.
Malam itu aku tidak pulang kerumah karena nenek tidak mau membelikan aku sebuah mobil remot control seperti yang dimiliki temanku, Edi. Nenek mencariku kemana – mana dan ketika menemukanku sedang bersembunyi di sebuah pos ronda, nenek mengejar dan membujukku untuk pulang hingga akhirnya kaki nenek tertusuk paku dan mengeluarkan banyak darah. Aku yang melihat kejadian itu langsung berlari mendekati nenek dan meminta tolong sekencang – kencengnya. Kulihat wajah nenek begitu kesakitan dan tangannya gemetar. Kejadian itu sungguh tidak akan aku lupakan. Berulang kali aku meminta maaf disela – sela orang – orang memopong nenekku kedalam rumah pak RT. Napas nenekku tersenggal – senggal entah karena kesakitan atau karena kelelahan mencari dan mengejarku sedari tadi. Wajahku tertunduk lama, aku takut orang – orang memarahiku karena ini semua salahku. Tapi ternyata bu Rt mendekatiku dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah aku ceritakan bu RT pun memberikan aku uang sebesar lima puluh ribu. Katanya itu untuk membeli mobil remot control seperti Edi. Setelah berpikir panjang aku berkata bahwa lebih baik uang itu untuk membelikan nenek sepotong daging rendang karena beliau sudah seminggu ini bolak – balik melewati rumah makan padang. Bu RT terharu mendengarnya dan memeluk lembut tubuhku karena niat tulusku untuk nenek.
Setelah kejadian malam itu. Nenek kembali pulang kerumah. Kaki nya sudah dibalut perban dan sudah membaik karena sudah  dibawa keklinik terdekat oleh pak RT dan bu RT. Sebelum pergi kesekolah aku mendekati nenek dan berbisik minta maaf. Aku berjanji didalam hati bahwa suatu saat nanti akan membelikan nenek daging rendang yang banyak sebagai permohonan maaf. Nenek tersenyum, beliau mengelus kepalaku dan air matanya terjatuh.
“Nenek ga akan pernah marah sama Putra. Putra anak baik. Sekolah yang sungguh – sungguh biar suatu saat nanti bisa sukses dan membahagiakan nenek”.
Tak terasa butiran cairan putih menetes di pipiku. Aku menangis da benar  – benar berjanji akan membelikan nenek rendang setiap hari suatu saat nanti. Sesampainya disekolah. Aku belajar dengan sungguh – sungguh. Kini aku mulai mengerti mengapa aku harus rajin belajar dan menjadi anak yang pintar. Agar aku lulus sekolah dan menggapai cita – citaku.
Setelah enam tahun berlalu, pengumuman kelulusan SMA diumumkan. Ternyata aku menjadi siswa terbaik disekolah. Nenekku berdiri terbata – bata untuk berdiri sambil bertepuk tangan. Semua mata tetuju bangga padaku. Terutama nenek baru kali ini aku melihat senyumnya begitu lepas hingga sangat terharu.   
Aku diterima diperguruan tinggi di Jogjakarta jurusan Kedokteran. Akhirnya aku bisa membuat bangga nenekku yang makin hari makin putih rambutnya. Namun itu tandanya aku harus berpisah dengan nenekku karena aku harus merantau ke kota Jogjakarta. Nenek tidak mungkin meninggalkan rumah peninggalan dari suaminya itu. Ada rasa sedih yang teramat dalam dihatiku. Harus terus berjuang mencapai cita – cita menjadi seorang dokter atau menjaga nenek yang sangat disayangi sambil bekerja di Jakarta saja.Sungguh pilihan yang sangat berat.
Setelah berunding dengan nenek dan pihak sekolah tidak ada yang mendukungku untuk tetap menjaga nenek di Jakarta sambil bekerja. Karena kata nenek dan kepala sekolah itu sama saja membuang peluang yang telah diberikan Tuhan. Dan sore itu aku berangkat naik kereta meninggalkan sang nenek yang sudah rentan tua. Tak tega rasanya melihat tubuhnya yang mulai membungkuk harus hidup sendirian. Walau kalimat terakhirnya membuat aku sedikit lega. Bahwa ada bu RT dan tetangga lain yang akan menjaganya. Segala bayangan bersama nenek terputar ketika kereta sedikit demi sedikit menjauh dari sosok nenekku yang amat aku sayang dan cintai itu. Begitu sayang dan cintanya aku pada beliau. Beliau yang selama ini menjadi orang dibalik kesuksesanku nantinya. Beliau yang selalu mendidik dan menjagaku agar aku menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Nenek pula lah yang menjadi inspirasi mengapa aku ingin menjadi seorang dokter. Karena aku ingin merawat nenek ketika nenek lansia nanti. Ketika duduk dibangku kereta. Tangisanku pecah mengingat kesalahan ketika kaki nenek tertusuk paku. Hati ini rasanya ingin memeluk tubuh nenek yang semakin kurus dan tak segagah dulu.
Tak terasa setelah segala keharuan. Aku telah tinggal selama enam bulan di Jogjakarta. Aku duduk dibangku sebuah angkringan. Kulihat ada sepasang pengamen anak – anak kakak beradik. Mereka begitu riang dan gembira. Tiba – tiba aku teringat pada adikku, Petra. Namun disela – sela lamunanku. Aku dikejutkan oleh sang penjual angkringan.
“Mas, yang kemarin belum dibayar kan es teh nya?” dengan logat medoknya
 Aku mengeriputkan dahiku seolah aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan padaku.
“Kemarin kan mas kesini sama pacarnya”. Penjual itu menyakinkan perkataannya
“Saya baru pertama kesini mas, serius saya” Aku mulai menaikkan nada perkataanku padanya
“Mas Petra gimana si, kemarin kan mas lupa biasanya mas langsung bayar” penjual itu sedikit jengkel.
Aku terkejut dan berpikir sangat keras. Aku langsung meminta nomor telepon Petra dari penjual itu. Aku menghubungi Petra yang dimaksud si penjual. Ya, dan ternyata benar. Dia adalah Petra adikku. Kami bertemu di angkringan itu. Dan sipenjual hanya menganga tiada henti melihat bahwa kami berdua saudara kembar. Perawakannya dia lebih pendek dariku serta kulitnya lebih putih dariku. Sedang kulitku bewarna sawo matang, lebih tinggi dan memiliki hidung lebih mancung. Kami berpelukan sekencang – kencangnya. Kami tertawa bernostalgia mengingat jaman kecil dulu. Dan saling menanyakan kabar nenek dan ibu. Malam itu aku diajak langsung kerumah ibu. Dan ibu memelukku amat sangat kencang. Ibu tak mampu lagi berucap apa – apa saking kaget dan rindunya padaku. Setelah pertemuan itu akhirnya aku tinggal bersama ibu dan adik kembarku.
Setiap libur semester aku menjenguk nenekku di Jakarta. Senyumnya menyambutku begitu penuh dengan garis keriput. Beliau tak lagi berjualan kue serabi sesering dulu ketika aku masih SD. Kadang beliau didatangi bu RT yang memberikan makan siang dan malam saja. Dan terkadang nenek menahan lapar dengan berpuasa senin kamis. Dan ketika pulang kembali ke Jogja, beribu khawatir menderaku. Aku takut nenek sakit tanpa ada yang tahu atau nenek…. Ah sudahlah nenekku masih kuat walau tak sekuat dan setegar dulu. Namun aku yakin nenek akan melihat aku sukses nantinya.
Tak terasa pendidikanku di jurusan kedokteran telah selesai dengan hasil IPK yang sangat mencengangkan. Aku disejajarkan dengan lulusan cumlaude lainnya. Walau nenek tak  ada didepanku saat ini. Setidaknya ada sosok ibu dan adikku yang dapat melihat keberhasilanku.
Aku pulang ke Jakarta lengkap bersama ibu dan adik. Sebelumnya aku membawaku daging rendang dan baju baju untuk nenek. Karena baju nenek banyak yang sudah tak layak pakai. Nenek terkejut melihat kedatangan kami semua. Nenek bertekuk lutut mengucap syukur atas semua yang saat ini telah beliau rasakan. Kami pun menangis haru. Dan aku memberikan daging rendang untuk dimakan bersama – sama.
Setelah aku bekerja aku memilik gaji yang sangat tinggi. Sehingga bisa membelikan nenek dan ibu sebuah rumah dan mobil serta kami bersama – sama menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Setelah itu aku membuatkan panti jompo sebagai yayasan sebagai permintaan terakhir nenek sebelum beliau meninggal.  Akhirnya aku bisa membalas rasa tulus dan kasih sayang dari ibu terutama nenekku yang menjagaku disaat ayah dan ibu tidak berada disampingku.  

Janganlah melawan pada nenek, paman, bibi atau siapapun orang – orang selain orang tua kita yang menjaga kita ketika kita susah. Tapi balaslah segala kebaikannya dengan rasa cinta yang tulus dan abadi agar kita sukses dikemudian hari.





<a href="http://www.sprayed-amore.com/p/lomba-blog-cintamenginspirasi.html"><img src="http://i305.photobucket.com/albums/nn234/thatshotproduction/Lomba-Blog-2014.jpg"></a>