Sang
Kupu – Kupu Malam
Mata ku terpejam namun ku buka
lagi.Ku lihat tangan lembut nya masih berada di atas kepala ku, dibelai begitu
lembut.
“Kirana, tidur nak hari sudah
malam sudah jam sembilan” senyum nya begitu membuat aku rindu padanya.
Aku
hanya mengangguk, terdiam, menikmati belaian halusnya.Hingga lambat laun mata
ku tertutup dengan sendirinya,
Tanpa
aku tahu seperti itulah ibu setiap malam.Meninggalkan aku dari tidurku, bangkit
dari peraduan kami di tempat tidur yang mulai reot.Ya aku adalah anak yatim
sejak berumur tiga tahun, ayah ku telah meninggal akibat mengidap penyakit
liver.Tragis, namun inilah hidup beginilah dunia nyata, dunia yang mengajarkan
semua untuk hidup keras.Begitu tebal bedak yang ibu gunakan gincu serta make –
up bak ondel – ondel ditengah malam.Serta pakaian yang begitu minim menyelimuti
tubuh ibuku walau malam telah menusuk relung hati serta kulit lembut nya.
Hingga aku mulai besar, besar,
dan besar barulah aku menyadari bahwa ibuku seorang kupu – kupu malam.
Matahari mulai tinggi, aku
terbangun dari tidur ku.Ku lihat ibu telah berdiri di dapur.Ibuku memang jago
masak, aku lah yang selalu menghabiskan masakan ibu.Beliau lah yang
mengantarkan aku semasa aku masih menggunakan seragam putih merah ini.Aku
begitu riang berpegangan tangan sepanjang jalan bersama ibu.Tak jarang aku
menangis dan berbalik arah kemudian memeluk nya erat apabila aku akan masuk
pintu gerbang sekolah ku.Beliau adalah mutiara hidup ku, aku sangat menyayangi
ibuku setulus kasih sayang nya pada ku.
Saat ini aku adalah murid kelas
lima sekolah dasar.Aku adalah murid yang sangat pintar di kelas, maklum ayah ku
jago dalam menggambar, ibu yang bilang padaku bahwasanya dahulu ayah adalah
seorang arsitek yang sukses.Serta ibu yang jago masak.Tak perlu lah bingung mengapa
saat ini aku pun jadi anak pintar.Aku selalu rangking satu dikelas, banyak
pujian mendatangi ku silih berganti apalagi saat pengambilan raport kenaikan
kelas.Aku menyadari bahwa ibu sudah banting tulang kerja keras dari malam
hingga pagi hari.
Ku sambut nasi goreng ditambah
kerupuk buatan ibu ku walau hanya masakan sederhana, namun bagiku ini makanan
terlezat di dunia.Kata ibu kita harus tetap bersyukur walau Tuhan memberikan
beribu cobaan karena setiap cobaan itu merupakan anugerah terindah dalam hidup.Walau
sudah mulai tumbuh besar namun ibu tetap mengantar kan aku ke sekolah.Ibu ku
adalah sosok tak tergantikan dalam hidup ku.Aku tak pernah membayangkan apabila
satu detik saja beliau luput dari penglihatan ku.
Sepanjang jalan ibu bercerita
bahwa perempuan itu layaknya telur, apabila ia retak maka ia tak akan pernah
utuh lagi.Aku memang belum mengerti maksud ibuku, namun itu hal lucu
bagiku.Telur adalah makanan favorit ku, ibu begitu cerdas memberikan cerita itu
untuk ku.Hal itu membuat aku menebarkan senyum, senyum indah yang ibu wariskan
untuk ku.
Sesampai nya digerbang sekolah,
rasa nya tangan ku enggan melepaskan jemari nya.Ku peluk ibuku erat – erat
hingga satpam sekolah menggeleng – gelengkan kepala nya setiap melihat adegan
kami berdua.
Akhirnya aku masuk ke ruang
kelas, ku lihat Syakilla telah berdiri di depan pintu dengan bibir cerewet nya
ia sering mengganggu anak – anak di sekolah, mungkin karena ia orang kaya dan
ayahnya adalah donator utama di sekolah ku.
“Eh eh masa semalem aku lihat ibu
nya Kirana lagi berdiri – berdiri di depan jembatan” mata nya sinis menatap ku.
“Hah, terus kenapa sya?” teman –
teman nya menjawab.
“Iya tapi masa ibu nya pakai rok
mini banget terus pakai lipstick tebel banget, udah kaya bencong.Hahaha”
Syakilla tertawa begitu keras nya.
“Aku tak mengerti aku tetap masuk
ke dalam ruang kelas.Aku tak percaya ibu ku seperti itu.Tidak mungkin ibuku
malam – malam di jembatan,sedang apa beliau?” Seketika pikiran ku kacau aku tak
tahu harus bagaimana namun aku tetap tidak begitu menghiraukan nya.Hingga tanpa
terasa bel masuk telah berbunyi dan bu guru pun telah duduk di meja guru.
“Anak – anak sebentar lagi adalah
hari ibu, yang jatuh pada tanggal 22 Desember, jadi kita akan mengundang ibu
kalian untuk hadir di acara peringatan Hari Ibu ini.Dan diharapkan semua ibu
kalian wajib hadir ya karena kita akan membuat banyak karya – karya kejutan” ucap bu Hanum dengan tersenyum lebar.
Semua anak pun bertepuk tangan,
suasana kelas seakan begitu ramai oleh bincangan para murid yang membicarakan
akan memberikan serta mempersembahkan apa ia pada ibu mereka.
Tanpa terasa bel pulang pun berbunyi.Aku
berlari – lari untuk pulang kerumah.Aku rindu ibuku, aku juga rindu menu makan siang hari ini.Sampai
akhirnya aku tiba dirumah.Ibu ku seperti biasa sedang menelpon sambil tertawa
terpingkal – pingkal.Aku tak pernah tahu dengan siapa ibu berbicara yang
penting jika ibu senang aku pun ikut senang.
Aku langsung masuk ke dalam
kamar, ku hempaskan tubuh ku ke kasur yang mulai reot itu, aku memikirkan apa
yang harus aku berikan pada ibuku.Sejenak terlintas aku ingin membuat kan nya
sebuah puisi namun tiba – tiba aku ingin bernyanyi di depan ibuku.Aku bingung,
atau kah aku harus membuat kan nya tas dari kain agar bisa dipamerkan nanti
nya.Aku terdiam hingga melamun dan tertidur pulas.Namun seperti inilah
kebiasaan ku saat siang hari.
Sore
itu ibu bergegas dengan cepat nya bagaikan kucing berlari mengejar tulang
ikan.Tak pernah aku melihat beliau bersolek semerona itu.Aku tak mengerti apa –
apa mengerti kemana ibu ku akan pergi sore ini.Ku sambut jemari nya ketika
tangan halusnya menyambut tas mewah nya.”Ibu mau kemana?” Tanya ku lirih.Karena
sedetik pun aku tak pernah bahagia bila ibu jauh dari penglihatan ku.Ibu
mencium keningku
Ibu pun pergi meninggalkan aku seorang diri …
Ibu ternyata menunggu seseorang, hingga tiba sebuah mobil
mewah berhenti tepat di tempat ibu berdiri.Laki – laki itu mengajak ibu masuk
ke mobil.Ibu begitu sumringah.Lain di wajah lain di hati nampak nya.Ibu pun di
ajak ke sebuah kamar.Kamar hotel yang begitu megah dan mewah.Ibu terdiam .Ibu
ku sering melakukan perilaku buruk ini akan tetapi ntah mengapa beliau
meneteskan air mata nya hingga tersedu.
Kenapa? Laki – laki bertubuh besar dan berwajah gagah itu
mendekati ibu ku.
Maaf mas, maaf tiba – tiba saya merasa berdosa.Ini mas uang
nya maaf sekali lagi jikalau saya tidak bisa memuaskan mas.
Loh kenapa Jeng.Ajeng kan sudah sering berprofesi seperti
ini? Tanya pengusaha itu keheranan
“Maaf mas, saya malu dengan anak saya” suara ibu semakin
lirih dan berat.
“Apalagi saat anak mas melihat saya di jembatan waktu
itu.Syakilla kan teman sekelas anak saya, bagaimana jika dia cerita paa anak
saya mas?” mata ibu mulai merah
Anakmu umur berapa jeng? Si pengusaha bertanya lagi
“Umur nya sudah 10 tahun.Saya tidak ingin dia tau bahwa ibu
nya serendah ini mas.Saya tidak ingin dia mengikuti jejak saya nanti nya.Saya
malu mas, andai ada pekerjaan yang bisa lebih halal saya mau mas.Tapi nyonya
Roro selalu mengancam saya kalau saya tidak menjadi pelacur maka hutang suami
saya akan ditambah bunga nya”.Ibu mengangis tersedu – sedu baju nya basah
terkena tetesan air mata yang semakin deras.
Andai aku tahu betapa miris nya dan pilu nya ibu ku untuk
mencari sesuap nasi demi hidup kami berdua.
Ibu pun pulang dengan perasaan senang.Sang pengusaha merasa
tidak tega dan memberikan uang tambahan pada ibu.
Tanpa di rasa acara pentas hari ibu disekolah segera
berlangsung.Semua kursi telah penuh oleh wali murid para petinggi serta guru –
guru.
Penampilan demi penampilan telah berlalu.Ada pertunjukkan
bernyanyi, menari dan memberikan hasil karya pada ibu nya masing – masing.
“Jantung ku berdebar – debar karena sebentar lagi adalah
giliran ku tampil di depan panggung yang megah nan luas ini”. Ucap ku dalam
hati
Selanjut nya kita panggilkan Kirana Larasati dari kelas
lima.Semua penoton bertepuk tangan, semua mata tertuju pada ku.Suara ku begitu
berat rasa nya enggan keluar ketika akan membaca kan sebuah pusisi yang kertas
nya sudah mulai kusam dan lusuh.
Selamat pagi semua nya.Nama saya Kirana Larasati.Saya ingin
membacakan sebuah puisi untuk seorang bidadari tanpa sayap, ibu saya Ajeng
Larasati.
Semakin riuh suara tepuk tangan seluruh penonton, akan
tetapi detak jantung dan gugup ku tak sekencang tadi ketika aku belum naik ke
atas panggung.
Sang Kupu – Kupu
Malam
Perempuan di persimpang jalan
Kenakan sutera seakan terbang kesana dan kemari
Ku pejam mata ku namun sebenarnya tak mampu terpejam
Aku mengkhawatirkan mu
Aku begitu menyayangimu
Aku tak pernah peduli orang lain mencaci ku
Mencaci dirimu
Namun aku yang lebih mengenalmu
Mungkin ini garis jalan hidup kita
Tak seorang pun yang kan mengerti
Yang merasa iba di hati
Walau hatiku miris
Tak kan bercita – cita aku ingin seperti mu
Ku ingin mengangkat derajatmu
Ku ingin mata mu dapat terpejam di malam hari
Tidak pergi berlumur keringat dan pilu hati nurani
Ini lah ibu ku
Sang kupu – kupu malam
Karya
Kirana Larasati
“Selamat hari ibu”. Air mata ku menetes deras ketika
mengucapkan selamat hari ibu.
Semua orang tercengang, semua nya berdiri, bertepuk tangan,
bersorak – sorai.Akan tetapi ibuku menangis menutup wajah dengan jemari hingga
tak mampu berdiri lagi.
Aku mengejar nya aku mencium nya dan aku memeluk nya begitu
erat.Amat dramatis namun inilah hidup.
Ketika kita tak mampu menjalani hidup.Ketika kita tak mampu
menerima siapa ibu kita.Sekali pun ia rendah dimata orang lain.Akan tetapi
dimata hati mu dia tetap haruslah seseorang yang paling bermartabat dan berderajat
sehingga jauh dari hinaan dunia.Dan jangan pernah malu menunjukkan siapa ibu
kalian.Buatlah ia bangga di mata orang lain di dunia ini.