Selasa, 14 Januari 2014

Kumpulan Cerita Pendek



Sang Kupu – Kupu Malam
Mata ku terpejam namun ku buka lagi.Ku lihat tangan lembut nya masih berada di atas kepala ku, dibelai begitu lembut.
“Kirana, tidur nak hari sudah malam sudah jam sembilan” senyum nya begitu membuat aku rindu padanya.
Aku hanya mengangguk, terdiam, menikmati belaian halusnya.Hingga lambat laun mata ku tertutup dengan sendirinya,
Tanpa aku tahu seperti itulah ibu setiap malam.Meninggalkan aku dari tidurku, bangkit dari peraduan kami di tempat tidur yang mulai reot.Ya aku adalah anak yatim sejak berumur tiga tahun, ayah ku telah meninggal akibat mengidap penyakit liver.Tragis, namun inilah hidup beginilah dunia nyata, dunia yang mengajarkan semua untuk hidup keras.Begitu tebal bedak yang ibu gunakan gincu serta make – up bak ondel – ondel ditengah malam.Serta pakaian yang begitu minim menyelimuti tubuh ibuku walau malam telah menusuk relung hati serta kulit lembut nya.
Hingga aku mulai besar, besar, dan besar barulah aku menyadari bahwa ibuku seorang kupu – kupu malam.
Matahari mulai tinggi, aku terbangun dari tidur ku.Ku lihat ibu telah berdiri di dapur.Ibuku memang jago masak, aku lah yang selalu menghabiskan masakan ibu.Beliau lah yang mengantarkan aku semasa aku masih menggunakan seragam putih merah ini.Aku begitu riang berpegangan tangan sepanjang jalan bersama ibu.Tak jarang aku menangis dan berbalik arah kemudian memeluk nya erat apabila aku akan masuk pintu gerbang sekolah ku.Beliau adalah mutiara hidup ku, aku sangat menyayangi ibuku setulus kasih sayang nya pada ku.
Saat ini aku adalah murid kelas lima sekolah dasar.Aku adalah murid yang sangat pintar di kelas, maklum ayah ku jago dalam menggambar, ibu yang bilang padaku bahwasanya dahulu ayah adalah seorang arsitek yang sukses.Serta ibu yang jago masak.Tak perlu lah bingung mengapa saat ini aku pun jadi anak pintar.Aku selalu rangking satu dikelas, banyak pujian mendatangi ku silih berganti apalagi saat pengambilan raport kenaikan kelas.Aku menyadari bahwa ibu sudah banting tulang kerja keras dari malam hingga pagi hari.
Ku sambut nasi goreng ditambah kerupuk buatan ibu ku walau hanya masakan sederhana, namun bagiku ini makanan terlezat di dunia.Kata ibu kita harus tetap bersyukur walau Tuhan memberikan beribu cobaan karena setiap cobaan itu merupakan anugerah terindah dalam hidup.Walau sudah mulai tumbuh besar namun ibu tetap mengantar kan aku ke sekolah.Ibu ku adalah sosok tak tergantikan dalam hidup ku.Aku tak pernah membayangkan apabila satu detik saja beliau luput dari penglihatan ku.
Sepanjang jalan ibu bercerita bahwa perempuan itu layaknya telur, apabila ia retak maka ia tak akan pernah utuh lagi.Aku memang belum mengerti maksud ibuku, namun itu hal lucu bagiku.Telur adalah makanan favorit ku, ibu begitu cerdas memberikan cerita itu untuk ku.Hal itu membuat aku menebarkan senyum, senyum indah yang ibu wariskan untuk ku.
Sesampai nya digerbang sekolah, rasa nya tangan ku enggan melepaskan jemari nya.Ku peluk ibuku erat – erat hingga satpam sekolah menggeleng – gelengkan kepala nya setiap melihat adegan kami berdua.
Akhirnya aku masuk ke ruang kelas, ku lihat Syakilla telah berdiri di depan pintu dengan bibir cerewet nya ia sering mengganggu anak – anak di sekolah, mungkin karena ia orang kaya dan ayahnya adalah donator utama di sekolah ku.
“Eh eh masa semalem aku lihat ibu nya Kirana lagi berdiri – berdiri di depan jembatan” mata nya sinis menatap ku.
“Hah, terus kenapa sya?” teman – teman nya menjawab.
“Iya tapi masa ibu nya pakai rok mini banget terus pakai lipstick tebel banget, udah kaya bencong.Hahaha” Syakilla tertawa begitu keras nya.
“Aku tak mengerti aku tetap masuk ke dalam ruang kelas.Aku tak percaya ibu ku seperti itu.Tidak mungkin ibuku malam – malam di jembatan,sedang apa beliau?” Seketika pikiran ku kacau aku tak tahu harus bagaimana namun aku tetap tidak begitu menghiraukan nya.Hingga tanpa terasa bel masuk telah berbunyi dan bu guru pun telah duduk di meja guru.
“Anak – anak sebentar lagi adalah hari ibu, yang jatuh pada tanggal 22 Desember, jadi kita akan mengundang ibu kalian untuk hadir di acara peringatan Hari Ibu ini.Dan diharapkan semua ibu kalian wajib hadir ya karena kita akan membuat banyak karya – karya kejutan”  ucap bu Hanum dengan tersenyum lebar.
Semua anak pun bertepuk tangan, suasana kelas seakan begitu ramai oleh bincangan para murid yang membicarakan akan memberikan serta mempersembahkan apa ia pada ibu mereka.
 Tanpa terasa bel pulang pun berbunyi.Aku berlari – lari untuk pulang kerumah.Aku rindu ibuku, aku  juga rindu menu makan siang hari ini.Sampai akhirnya aku tiba dirumah.Ibu ku seperti biasa sedang menelpon sambil tertawa terpingkal – pingkal.Aku tak pernah tahu dengan siapa ibu berbicara yang penting jika ibu senang aku pun ikut senang.
Aku langsung masuk ke dalam kamar, ku hempaskan tubuh ku ke kasur yang mulai reot itu, aku memikirkan apa yang harus aku berikan pada ibuku.Sejenak terlintas aku ingin membuat kan nya sebuah puisi namun tiba – tiba aku ingin bernyanyi di depan ibuku.Aku bingung, atau kah aku harus membuat kan nya tas dari kain agar bisa dipamerkan nanti nya.Aku terdiam hingga melamun dan tertidur pulas.Namun seperti inilah kebiasaan ku saat siang hari.
                Sore itu ibu bergegas dengan cepat nya bagaikan kucing berlari mengejar tulang ikan.Tak pernah aku melihat beliau bersolek semerona itu.Aku tak mengerti apa – apa mengerti kemana ibu ku akan pergi sore ini.Ku sambut jemari nya ketika tangan halusnya menyambut tas mewah nya.”Ibu mau kemana?” Tanya ku lirih.Karena sedetik pun aku tak pernah bahagia bila ibu jauh dari penglihatan ku.Ibu mencium keningku
Ibu pun pergi meninggalkan aku seorang diri …
Ibu ternyata menunggu seseorang, hingga tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di tempat ibu berdiri.Laki – laki itu mengajak ibu masuk ke mobil.Ibu begitu sumringah.Lain di wajah lain di hati nampak nya.Ibu pun di ajak ke sebuah kamar.Kamar hotel yang begitu megah dan mewah.Ibu terdiam .Ibu ku sering melakukan perilaku buruk ini akan tetapi ntah mengapa beliau meneteskan air mata nya hingga tersedu.
Kenapa? Laki – laki bertubuh besar dan berwajah gagah itu mendekati ibu ku.
Maaf mas, maaf tiba – tiba saya merasa berdosa.Ini mas uang nya maaf sekali lagi jikalau saya tidak bisa memuaskan mas.
Loh kenapa Jeng.Ajeng kan sudah sering berprofesi seperti ini? Tanya pengusaha itu keheranan
“Maaf mas, saya malu dengan anak saya” suara ibu semakin lirih dan berat.
“Apalagi saat anak mas melihat saya di jembatan waktu itu.Syakilla kan teman sekelas anak saya, bagaimana jika dia cerita paa anak saya mas?” mata ibu mulai merah
Anakmu umur berapa jeng? Si pengusaha bertanya lagi
“Umur nya sudah 10 tahun.Saya tidak ingin dia tau bahwa ibu nya serendah ini mas.Saya tidak ingin dia mengikuti jejak saya nanti nya.Saya malu mas, andai ada pekerjaan yang bisa lebih halal saya mau mas.Tapi nyonya Roro selalu mengancam saya kalau saya tidak menjadi pelacur maka hutang suami saya akan ditambah bunga nya”.Ibu mengangis tersedu – sedu baju nya basah terkena tetesan air mata yang semakin deras.
Andai aku tahu betapa miris nya dan pilu nya ibu ku untuk mencari sesuap nasi demi hidup kami berdua.
Ibu pun pulang dengan perasaan senang.Sang pengusaha merasa tidak tega dan memberikan uang tambahan pada ibu.
Tanpa di rasa acara pentas hari ibu disekolah segera berlangsung.Semua kursi telah penuh oleh wali murid para petinggi serta guru – guru.
Penampilan demi penampilan telah berlalu.Ada pertunjukkan bernyanyi, menari dan memberikan hasil karya pada ibu nya masing – masing.
“Jantung ku berdebar – debar karena sebentar lagi adalah giliran ku tampil di depan panggung yang megah nan luas ini”. Ucap ku dalam hati
Selanjut nya kita panggilkan Kirana Larasati dari kelas lima.Semua penoton bertepuk tangan, semua mata tertuju pada ku.Suara ku begitu berat rasa nya enggan keluar ketika akan membaca kan sebuah pusisi yang kertas nya sudah mulai kusam dan lusuh.
Selamat pagi semua nya.Nama saya Kirana Larasati.Saya ingin membacakan sebuah puisi untuk seorang bidadari tanpa sayap, ibu saya Ajeng Larasati.
Semakin riuh suara tepuk tangan seluruh penonton, akan tetapi detak jantung dan gugup ku tak sekencang tadi ketika aku belum naik ke atas panggung.
                                                                                                               

Sang Kupu – Kupu Malam
Perempuan di persimpang jalan
Kenakan sutera seakan terbang kesana dan kemari
Ku pejam mata ku namun sebenarnya tak mampu terpejam
Aku mengkhawatirkan mu
Aku begitu menyayangimu
Aku tak pernah peduli orang lain mencaci ku
Mencaci dirimu
Namun aku yang lebih mengenalmu
Mungkin ini garis jalan hidup kita
Tak seorang pun yang kan mengerti
Yang merasa iba di hati
Walau hatiku miris
Tak kan bercita – cita aku ingin seperti mu
Ku ingin mengangkat derajatmu
Ku ingin mata mu dapat terpejam di malam hari
Tidak pergi berlumur keringat dan pilu hati nurani
Ini lah ibu ku
Sang kupu – kupu malam            
                                                                                                                Karya Kirana Larasati

“Selamat hari ibu”. Air mata ku menetes deras ketika mengucapkan selamat hari ibu.
Semua orang tercengang, semua nya berdiri, bertepuk tangan, bersorak – sorai.Akan tetapi ibuku menangis menutup wajah dengan jemari hingga tak mampu berdiri lagi.
Aku mengejar nya aku mencium nya dan aku memeluk nya begitu erat.Amat dramatis namun inilah hidup.
Ketika kita tak mampu menjalani hidup.Ketika kita tak mampu menerima siapa ibu kita.Sekali pun ia rendah dimata orang lain.Akan tetapi dimata hati mu dia tetap haruslah seseorang yang paling bermartabat dan berderajat sehingga jauh dari hinaan dunia.Dan jangan pernah malu menunjukkan siapa ibu kalian.Buatlah ia bangga di mata orang lain di dunia ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar